LAPORAN PEMISAHAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
LAPORAN PEMISAHAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I
NAMA : LENNY
FRISKHA TAMBA
NIM : A1C119035
DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL,
M.Si.
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN
ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2021
VII. Data Pengamatan
|
PROSEDUR |
FUNGSI ALAT DAN BAHAN |
TUJUAN |
HASIL |
|
|
Diukur 3 ml butanol , 1 ml etanol, 1 ml amonia |
1. Chamber klt sebagai tempat eluen 2. Gelas ukur sebagai mengukur larutan 3. Pipa kapiler sebagai pentotol fase diam yaitu alizarin red 4. Penjepit sebagai penjepit kertas klt 5. Kertas klt sebagai alat untuk pentotolkan fase diam 6. Pensil untuk menggariskan kertas klt 7. Penggaris untuk menggariskan kertas klt 8. Pipet tetes untuk mengambil larutan |
Untuk membuat fase gerak |
||
|
Dimasukkan ke dalam chamber klt Diguncang dengan satu arah larutan
tersebut agar tercampur merata |
Agar larutan homogen |
|||
|
Dimasukkan kertas saring kedalam Chamber klt. |
Agar eluen menjadi jenuh |
|||
|
Agar fase gerak dapat terabsordpsi dengan fase diam |
Jarak yang ditempuh oleh zat A sebesar A= 2,5 cm B= 4,6 cm Pelarut= 5,5 cm |
|||
|
Disiapkan kertas klt |
||||
|
Ditotolkam sampel zat makanan pada kertas klt (a) dan yang B sebagi
standar ditotolkan alizarin red pada kertas klt b. |
|
Diangkat kertas saring yang ditandai kertas saring telah terkena eluen |
9. Alizarin red sebagai fasa diam 10. Aquades sebagai pembersih alat-alat 11. Butanol , etanol dan amonia sebagai fase gerak atau eluen |
Ditotolkan pipa kapiler agar sampel tidak melebar |
Berdasarkan hasil perhutungan nilai Rf zat warna makanan yang digunakan
adalah 0,84 sedangkan nilai Rf standar yang digunakan adalah 0,45 karena
nilai Rf merupakan karakteristik suatu zat |
|
Dimasukkan kertas klt ke dalam Chamber klt |
|||
|
Ditutup Chamber klt |
|||
|
Diangkat kertas klt dan diukur |
Untuk melngukur rf pada noda yang berada dikertas saring |
VII. Pembahasan
Kromatografi lapis tipis merupakan jenis
kromatografi yang dapat digunakan untuk menganalisis senyawa secara kualitatif
maupun kuantitatif. Lapisan yang memisahkan terdiri atas bahan
berbutir (fase diam) ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas, logam, atau
lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisah berupa larutan, ditotolkan berupa
bercak atau pita, setelah pelat/lapisan ditaruh dalam bejana tertutup rapat
yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak). Pemisahan terjadi
setelah perambatan kapiler (pengembangan), selanjutnya senyawa yang tidak
berwarna harus ditampakkan/dideteksi.
kromatografi dapat didefinisikan sebagai salah satu
metode analisis dalam kimia organik yang mana digunakan untuk memisahkan
campuran zat menjadi komponen-komponen yang jauh lebih sederhana yang disebut
komponen penyusun zat.
Pada percobaan ini yang saya amati pada video, yang menjadi fasa diam nya adalah alumina dan fasa gerak
adalah campuran dari amonia, etanol dan butanol. Analisis zat pewarna makanan dengan metode alizarin red dengan fase diam
plat alumina dan fase gerak campuran amonia, etanol dan butanol dengan prinsip
kerja yaitu memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel
dengan pelarut yang digunakan..
VIII. Permasalahan
1. mengapa
eluen pada percobaan ini harus dijenuhkan?
2. apa
prinsip dari kromatografi lapis tipis ini?
3. faktor
apa yang mempengaruhi pada praktikum kali ini?
IX. Kesimpulan
Berdasarkan
percobaan tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Analisis zat pewarna makanan dengan metode
alizarin red dengan fase diam plat alumina dan fase gerak campuran amonia,
etanol dan butanol dengan prinsip kerja yaitu memisahkan sampel berdasarkan
perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan.
2. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai Rf
zat warna makanan yang diteliti adalah 0,84 sedangkan zat warna standar yang
digunakan adalah 0,45. Setelah dibandingkan menemukan hasil bahwa, zat warna
yang diteliti bukan merupakan zat warna alizarin red.
X. Daftar Pustaka
Nurul, Dkk. 2017. Isolasi
Senyawa Sinamaldehid Dari Batang Katu Manis ( Cinnalnomum Burmanii) Dengan Metode Kromatografi Lapi Tipis. J. Pijar MIPA.
Vol. XII. No.2.
Saadah, Dkk. 2017.
Alga Merah ( Gracilaria Coronopifolia) Sebagai Sumber Fitohormon Sitokmin Yang
Potensial. Chimica Et Natura Acta. Vol.5. No.3.
Underwood. 2002. Analisis
Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga
Baiklah saya Nurhayati dengan NIM A1C119077 akan menjawab permasalahan nomor 2. Prinsip kerja dari kromatografi lapis tipis yiatu memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan, yaitu menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan
BalasHapusBaiklah saya Sinta Marliya dengan NIM A1C119002 akan mencoba menjawab permasalahan nomor 1
BalasHapusPenjenuhan akan menghentikan penguapan pada eluen dan menyeimbangkan tekanan atmosfer di dalam dan di luar chamber, menjadikan eluen memenuhi chamber sehingga distribusi fasa diam dapat berjalan dengan lancar.
baiklah saya Marwina Apriyanti (A1C119017) Izin menjawab pertanyaan nomor 3. Faktor yang mempengaruhinya yaitu :
BalasHapus1.Pelarut, disebabkan pentingnya koefisien partisi, maka perubahan-perubahan yang sangat kecil dalam komposisi pelarut dapat menyebabkan perubahan-perubahan harga Rf.
2. Suhu, perubahan dalam suhu merubah koefisien partisi dan juga kecepatan aliran.
3. Ukuran dari bejana, Jika bejana besar digunakan, ada tendensi perambatan lebih lama, seperti perubahan komposisi pelarut sepanjang kertas, maka koefisien partisi akan berubah juga.
4. Kertas mempengaruhi kecepatan aliran juga mempengaruhi kesetimbangan partisi.
5. Sifat dari campuran, berbagai senyawa mengalami partisi diantara volume-volume yang sama dari fasa tetap dan bergerak. .